Penggunaan Media Gambar Ilustrasi untuk Melatih Sosialisasi Siswa pada Pembelajaran IPS Kelas 1 Sekolah Dasar (SD)

1br e

1.  Media

Kata “media” berasal dari bahasa
latin yang merupakan bentuk jamak dari kata 
medius, yang secara harfiah berarti “perantara atau pengantar”. Dengan
demikian, media merupakan wahana penyalur informasi belajar atau penyalur
pesan.
Untuk mewujudkan gagasan dalam
bentuk karya diperlukan adanya media. Media berperan atau memiliki kedudukan
sebagai sarana bagi seseorang untuk mengekspresikan diri (Syaiful Bachri
Djamarah, 2006: 120).
Kalau media merupakan sumber
belajar dalam pembelajaran, maka secara pengertian luas media dapat diartikan
dengan manusia, benda ataupun proses yang menjadikan peserta didik mendapatkan
pengetahuan dan keterampilan. Persoalan media merupakan persoalan material
formal yang bersifat tekstual dengan determinasinya pada pemilihan bahan,
penggunaan alat, pengolahan teknik, pendekatan dan hal-hal yang berkaitan
dengan cerapan inderawi, sesuai dengan konteks tujuannya.
Penempatan kata media dalam judul
penelitian “Penggunaan Media Gambar Ilustrasi untuk Melatih Sosialisasi  Siswa 
pada Pembelajaran IPS Kelas 
1  Sekolah Dasar (SD)” mempunyai arti bahwa
gambar ilustrasi sebagai alat perantara mengkomunikasikan pengalaman dari nilai
dan norma sosialisasi  di lingkungan yang
dialami siswa kelas 1.

2.  Gambar Ilustrasi

Secara etimologi kata ilustrasi
berasal dari bahasa latin Illustrate yang artinya menjelaskan atau menerangkan
sesuatu. Dalam arti luas ilustrasi dapat didefinisikan sebagai suatu karya seni
rupa yang bertujuan memperjelas sesuatu atau menerangkan sesuatu yang dapat
berupa cerita atau naskah, musik atau gambar (Rasjoyo  dalam Kristanto, 1994: 63).
Dengan demikian, gambar ilustrasi
adalah gambar yang bercerita yang memiliki tema sesuai dengan tema isi cerita
tersebut.
Rohidi (1984: 87) berpendapat
bahwa gambar ilustrasi dalam hubungannya dengan seni rupa adalah menggambar
ilustrasi sebagai penggambaran sesuatu melalui elemen rupa untuk lebih
menerangkan, menjelaskan atau pula memperindah sebuah teks, agar pembacanya
dapat ikut merasakan secara langsung melalui mata sendiri, sifat-sifat dan
gerak, dan kesan dari cerita yang disajikan.
Pernyataan ini sependapat dengan
Soedarso (1990:1) yang menyatakan bahwa seni gambar atau seni lukis yang
diabdikan untuk kepentingan lain, ialah memberikan penjelasan atau mengiringi suatu
pengertian, umpamanya cerita pendek di majalah. Hal tersebut menjadikan gambar
ilustrasi sebagai seni gambar yang menjelaskan cerita dari teks dan lisan dalam
suatu materi yang akan disampaikan.
Pengertian ilustrasi yang lebih
sempit dikemukakan oleh Martha Thoma dalam Sofyan (1994: 171) yaitu sebagai
berikut:  “Lukisan dan ilustrasi
berkembang sepanjang alur yang sama dalam sejarah dan dalam banyak hal,
keduanya sama. Secara tradisional keduanya mengambil inspirasi dari karya-karya
kasusastraan: hanya saja lukisan dibuat untuk menghiasi dinding atau
langit-langit, sedang ilustrasi dibuat untuk menghiasi naskah, untuk membantu
menjelaskan cerita atau mencatat peristiwa”.
Ilustrasi merupakan bentuk  visual 
dari teks atau kalimat. Ilustrasi 
dapat memperjelas teks atau kalimat terutama bagi anak-anak yang belum
bisa membaca. Dengan menggambarkan suatu adegan dalam sebuah  cerita, maka gambar tersebut dapat
menerangkan secara umum karakter  atau
keseluruhan isi cerita.
Selain itu, ilustrasi berfungsi untuk
menarik  pembaca agar tertarik untuk
membaca cerita. Sebuah ilustrasi yang 
ditampilkan dalam sebuah majalah memiliki fungsi sebagai pendukung
estetik dari sebuah tampilan cerita. Selain fungsi tersebut, ilustrasi juga
harus dapat mewakili karakteristik dari cerita yang ditampilkan, ada  korelasi antara visual dan latar belakang
cerita (Nazizah, 2012: 4).
Gambar  ilustrasi 
merupakan karya gambar yang menggunakan 
teknik mengambar untuk menghasilkan suatu gambaran yang bertujuan untuk
memproyeksikan dan menerangkan suatu masalah/cerita.
Pembahasan Penggunaan Gambar Ilustrasi sebagai Media Melatih Sosialisasi pada
Pembelajaran IPS Siswa Kelas 1 Sekolah Dasar (SD
), memberikan pelayanan
media pembelajaran berupa karya gambar ilustrasi untuk dapat berhubungan secara
berkelompok (masyarakat). Proses pembelajaran IPS diharapkan mempengaruhi siswa
agar mampu menyesuaikan diri sebaik mungkin dalam lingkungannya sehingga
menimbulkan perubahan dalam diri siswa kelas 
1 SD.
.
Proses belajar mengajar ilustrasi
merupakan bagian yang paling menarik untuk belajar melalui gambar-gambar
(Sudjana,2001:12). Kesimpulan dari ilustrasi gambar adalah sebagai berikut :
  • Ilustrasi gambar merupakan perangkat
    pelajaran yang sangat menarik minat belajar anak – anak.
  • Ilustrasi gambar membantu anak membaca dalam
    penafsiran dan mengingat isi materi teks yang menyertainya.
  • Pada umumnya anak-anak lebih menyukai
    setengah atau sehalaman penuh bergambar disertai beberapa petunjuk yang jelas.
  • Ilustrasi gambar hendaknya ditata sedemikian
    rupa.
Gambar ilustrasi cocok untuk usia
anak yang membutuhkan pembelajaran dengan tahap kemampuan berkomunikasi melalui
teks dan  verbal  dalam proses kepribadian anak menjadi
kepercayaan diri.

3.  Pembelajaran Menggambar di Sekolah Dasar (SD)

Pembelajaran adalah suatu
kegiatan yang melibatkan seseorang dalam upaya memperoleh  pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai
positif dengan  memanfaatkan berbagai
sumber untuk belajar.
Menurut Pribadi (2009:10)
mendefinisikan pembelajaran adalah proses yang sengaja  dirancang untuk menciptakan terjadinya
aktivitas belajar dalam diri individu. Dengan kata lain, pembelajaran merupakan
sesuatu hal yang bersifat  eksternal  dan sengaja dirancang untuk mendukung
terjadinya proses belajar internal dalam diri individu.
Salah satu pembelajaran sebagai
aktivitas belajar pada individu adalah kegiatan seni rupa. Pembelajaran  seni rupa di sekolah dasar mengembangkan
kemampuan siswa dalam berkarya seni rupa yang bersifat  visual 
dan  rabaan. Pembelajaran seni
rupa memberikan kemampuan bagi peserta didik di sekolah dasar untuk memahami
dan memperoleh kepuasaan dalam menanggapi karya
seni rupa ciptaan peserta didik di sekolah dasar maupun karya seni rupa ciptaan
orang lain.
Menurut Syafii (2009: 8) menjelaskan
dengan penekanan pada segi proses maka guru kelas pun, sebagaimana di TK dan
SD, dapat melaksanakan pembelajaran seni rupa. Kekurangmampuan guru dapat
ditutup dengan penggunaan media pembelajaran yang memadai dan optimalisasi
pengelolaan kelas sesuai dengan kondisi yang diharapkan. Pendidikan seni rupa
dalam proses pembelajaran peserta didik menanamkan kerangka nilai estetis
melalui pengalaman kreatif dan apresiatif.
Peran guru dalam pembelajaran seni rupa sangat
penting sebagai pengembang  pembelajaran
seni rupa yang memiliki keunggulan dan kelemahan dengan disesuaikan sasaran
pembelajaran yang tepat bagi siswa. Salah satu langkah mengembangkan
pembelajaran seni rupa dengan pendekatan bermain. Ketika proses belajar seni
rupa, siswa berupaya terus mengubah pemahaman mereka tentang dunia.
Apa yang pikirkan siswa hari ini
pasti akan berubah ketika siswa mendapat lebih banyak informasi esok hari.
Pengetahuan yang sering menjadi fokus pelajaran di sekolah seharusnya menjadi
batu loncatan bagi siswa untuk mengeksplorasi gagasan tentang hubungannya
dengan dunia.
Salah satu kegiatan pembelajaran
seni rupa bagi siswa sekolah dasar adalah memberikan pengalaman aktifitas
menggambar. Peran guru dalam pembelajaran seni rupa sangat penting sebagai
pengembang model pembelajaran seni rupa yang memiliki keunggulan dan kelemahan
dengan disesuaikan sasaran pembelajaran yang tepat bagi siswa. Salah satu
langkah mengembangkan pembelajaran seni rupa dengan pendekatan bermain.
Aktivitas menggambar bukan
merupakan kegiatan proses produksi, melainkan sebagai media bermain yang syarat
dengan kegembiraan dan kepuasan. Melalui menggambar di tingkat sekolah  dasar dapat mengekspresikan ide, imajinasi
dan fantasi serta pengalaman batinnya 
untuk dikomunikasikan kepada lingkungan di luar dirinya.
Kegiatan menggambar di sekolah
dasar bersifat sebagai proses untuk mengembangkan dan menumbuhkan percaya diri
serta berani mengungkapkan perasaan atau keinginan. Konteks pembelajaran
menggambar di sekolah dasar adalah pengembangan kemampuan berpikir kreatif yang
berorientasi aspek imajinatif-kreatif. Pengembangan kreativitas seni dalam
pembelajaran menggambar bukan pada nilai akhir, tetapi lebih pada proses
kreatif (Ismiyanto, 2010: 105).

1br-e-5443519
Gambar Ilustrasi Upacara Bendera Karya Anak Sekolah Dasar (SD)

4.  Tipologi Gambar Anak

Gaya ungkapan sering dilupakan dalam
pelaksanakan pendidikan seni rupa. Apabila kita mencoba mengumpulkan tulisan
sejumlah orang, maka dengan mudah kita akan melihat perbedaan gaya ungkapan
tulisan mereka. Padahal mereka sama-sama belajar menulis, akan tetapi setelah
menulis sudah tidak lagi bagian belajar. Setelah kegiatan menulis menjadi
kegiatan spontan, maka. setiap orang menghasilkan gaya tulisan berbeda-beda.
Dalam kegiatan menggambarpun
sesungguhnya demikian. Kegiatan menggambar kebanyakan dilakukan dengan tidak
spontan, bahkan dilakukan dengan ragu-ragu, terutama oleh anak-anak besar yang
tidak berbakat seni rupa, maka gaya ungkapannya tidak tampak sama sekali. Hal
ini disebabkan oleh goresan-goresan yang membentuk itu dibuat masih dalam
proses belajar.
Sehubungan dengan ini paling
tidak anak-anak tidak mendapat tekanan untuk menuruti kehendak gurunya
(menggambar secara  visual-realistis,
yang sesuai kesukaan  gurunya). Gambar anak
dapat mencerminkan karakter anak. Apa yang digambarkan merupakan hasil apa yang
dilihat kemudian dirasakan. Apa yang digambar bukan hanya yang sedang ia
pikirkan, melainkan apa yang dilihat dengan perasaan yang diasosiasikan. Anak
dapat meniru alam, mengubah, mengurangi atau menghilangkan sebagian objek yang
digambarkannya.
Berdasarkan hasil karya gambar
yang dibuat anak, kita akan mengetahui cara ungkapan seni rupa yang berbeda.
Perbedaan ini terletak pada hasil karya yang dihasilkan. Ada gambar yang
naturalis, ada gambar anak yang bertipe ekspresif, ada gambar yang bertipe  dekoratif 
dan sebagainya. Selain itu perbedaan karakter tipologi gambar anak terletak
pada tingkat usia anak.

In Education Through Art, Read

Dalam  In Education Through Art, Read  (1958: 140) mengklasifikasikan gambar
anak-anak menjadi 12, yaitu:  Organic,
Lyrical, Impresionist, Rhytmical Pattern, Structur Form, Shematic, Haptic,
Expresionist, enumeratif, Decorative, Romantic, dan Literari.
a). Organic
Berkaitan serta bersimpati dengan
objek-objek nyata, anak-anak lebih suka objek dalam kelompok daripada yang
sendiri. Tipe ini juga mengenal proporsi yang wajar dan hubungan organis yang
wajar pula, misalnya pohon yang menjulang di atas tanah, gambar manusia dan
hewan bergerak sesuai dengan bentuk aslinya.
 
b). Lyrical
Penggambaran objek bersifat
realistis, tetapi tidak bergerak seperti organic. Objek yang digambarkan statis
dengan warna-warna yang tidak mencolok. Biasanya digambarkan oleh anak
perempuan.
c). Impresionist
Lebih mementingkan detail/kesan
suasana yang digambarkan daripada konsep keseluruhan.
d). Rhytmical Pattern
Gambar memperlihatkan benda-benda
yang dilihat, Contohnya gambar anak yang melempar bola, kemudian mengulang
gambar tersebut sampai bidang gambar terisi.
e). Structur Form
Tipe ini jarang ditemui pada
gambar anak. Objeknya mengikuti rumus ilmu bangunan yang diperkecil menjadi
satu rumusan geometris dimana rumus yang aslinya diambil dari pengamatan
f). Shematic
Menggambar menggunakan rumus ilmu
bangunan tanpa ada hubungan yang jelas dengan susunan organis. Skema dari objek
semula disempurnakan menjadi satu disain yang ada hubungan dengan objek secara
simbolis.
g). Haptic
Gambar yang dibuat mewakili  image-image 
hasil rabaan dan sensasi fisik dari dalam. Gambar-gambar yang dibuat
didak berdasarkan pengamatan  visual  suatu objek, tapi bukan skematik.
h). Expresionist
Berhubungan dengan dunia dalam
dirinya. Tidak hanya mengekspresikan sensasi egosentrik  tetapi juga objek dunia dari luar seperti
hutan, gerombolan orang, dan lain-lain
i). Enumeratif
Penggambar pada tipe ini dikuasai
oleh objek dan tidak dapat menghubungkan dengan sensasi keutuhan sehingga semua
bagian-bagian kecil yang dapat dilihatnya pada bidang gambar tanpa ada yang
dilebih-lebihkan.
j). Decorative
Menampilkan bentuk-bentuk dua
dimensi dengan pola-pola warna-warni dan mengusahakannya menjadi pola yang
menggembirakan. Bentuk-bentuk narural diekspresikan sehingga timbul perasaan
senang, melankolis, dan sebagainya. Dengan demikian anak yang menggambar
menghasilkan gambar dan memanfaatkan warna untuk menghasilkan pola-pola yang
riang.
k). Romantic
Pada tipe ini tema diambil dari
kehidupan yang dipertajam dengan fantasi. Gambar merupakan gabungan antara
ingatan dengan  image eidetic  sehingga menyangkut sesuatu yang baru.
l). Literary
Tema yang ditampilkan semata-mata
khayal yang berasal dari rasa yang disarankan gurunya atau imajinasi sendiri.
Tema ini merupakan gabungan antara ingatan dan imajinasi untuk disampaikan
kepada orang lain

Victor Lowenfield

Sementara itu, Victor Lowenfield
(1975: 275) membagi karya anak dalam proses berekspresi menghasilkan karya
dibagi menjadi tipe “visual’ dan “haptic”.

 a). Tipe Visual
Tipe  visual 
adalah gambar anak yang menunjukkan kecenderungan bentuk yang lebih
visual-realistis (memperlihatkan kemiripan bentuk gambar sesuai obyek yang
dilihatnya, atau obyektif). Gambar yang diungkapkan mementingkan kesamaannya
karya dengan bentuk yang diahayatinya serta memperhitungkan proporsinya secara
tepat. Penguasan ruang telah terasa dengan cara membuat kecil objek gambar bagi
benda yang jauh.
Begitun pula penguasaan warna,
pemakaian warna sesuai dengan warna-warna pada bendanya. Batas-batas tertentu
gambar atau lukisan anak yang tergolong tipe visual dapat dipersamakan dengan
lukisan karya pelukis naturalistis, yang membuat lukisannya sangat teliti,
karena ingin menggambarkan keadaan sebagaimana kelihatannya (dari pengalaman
visual).
b.)  Bertipe Haptik
Gambar anak yang memiliki tipe  haptik 
menunjukkan kecenderungan ke arah kebentukan yang lebih visual-emosional
atau upaya penggambaran secara subyektif yang berisi tentang ekspresi pribadi
dalam merespon lingkungannya. Benda yang digambarkam merupakan reaksi emosional
melalui perabaan dan penghayatannya di luar pengamatan visual. Biasanya benda
yang dianggap penting digambarkan lebih penting dibuat dengan ukuran lebih
besar dibandingkan dengan benda yang kurang penting.
Dalam gaya lukisan, gambar anak
yang bertipe  haptik  dapat disamakan dengan lukisan bergaya
ekspresionisme. Lukisan ekspresionisme adalah karya lukis yang memperlihatkan
ungkapan rasa secara spontan, dan sebagai pernyataan obyektif dari dalam diri
pelukisnya (inner states). Lukisan yang bersifat ekspresionistis  nampak berkesan sangat subyektif dari
kebebasan pribadi masing-masing pelukisnya.

5.  Sosialisasi

Menurut Hurlock (1998),
sosialisasi adalah suatu proses di mana seseorang memperoleh kemampuan sosial
untuk dapat menyesuaikan diri dengan tuntutan sosial. Kemampuan sosial ini
sangat erat kaitannya dengan perkembangan sosial anak.  Sosialisasi adalah suatu proses pembentukan
standar individu tentang keterampilan, dorongan sikap dan perilaku agar dapat
berjalan sesuai dengan tuntutan dan harapan masyarakat (Hetherington dan Parke,
1999). 
Pembentukan standar individu
tersebut didapatkan dari orangtua sejak dari lahir sampai dewasa. Sosialisasi
merupakan suatu proses sepanjang hidup sejak dari lahir sampai akhir hidup.
Dapat disimpulkan bahwa sosialiasi adalah 
suatu kemampuan individu untuk dapat berinteraksi secara baik dengan
lingkungan dan memperoleh nilai-nilai yang sesuai dengan lingkungannya. Unsur-unsur
sosialisasi dalam berinteraksi dengan lingkungan, meliputi: keluarga, teman
sebaya, lingkungan sekolah dan masyarakat.

Keluarga merupakan satuan sosial
yang didasarkan pada hubungan darah (genealogis). Nilai dan norma yang
disosialisasikan di keluarga adalah nilai norma dasar yang diperlukan oleh
seseorang agar nanti dapat berinteraksi dengan orang-orang dalam masyarakat
yang lebih luas.

Lingkungan teman sepermainan
lebih banyak sosialisasi yang berlangsung equaliter, seseorang belajar bersikap
dan berperilaku terhadap orang-orang yang setara kedudukannya, baik tingkat
umur maupun pengalaman hidupnya. Nilai dan norma yang disosialisasikan
seseorang belajar mengenai berbagai keterampilan sosial, seperti kerjasama,
mengelola konflik, jiwa sosial, kerelaan untuk berkorban, solidaritas, kemampuan
untuk mengalah dan keadilan.
Di lingkungan pendidikan/sekolah
anak mempelajari sesuatu yang baru yang belum dipelajari dalam keluarga maupun
kelompok bermain, seperti kemampuan membaca, menulis, dan berhitung. Nilai dan
norma di lingkungan sekolah terutama untuk sosialisasi tentang ilmu pengetahuan
dan teknologi serta nilai-nilai kebudayaan yang dipandang luhur dan akan
dipertahankan kelangsungannya dalam masyarakat melalui pewarisan (transformasi)
budaya dari generasi ke generasi berikutnya.

Proses terjadinya sosialisasi
terdiri dari

(1) belajar nilai dan norma. Setiap individu berupaya meningkatkan
kemampuan sosial masing-masing. Kemampuan sosial dapat diperoleh dari
lingkungannya. Nilai yang terdapat di lingkungannya dijadikan tolak ukur untuk
bersosialisasi sesama individu maupun kelompok. Sedangkan norma dalam
lingkungan dijadikan aturan yang disepakati oleh masyarakat tertentu sebagai
peraturan yang tidak terikat.

(2) menjadikan nilai dan norma
yang dipelajari tersebut sebagai milik diri. Nilai dan norma setiap individu
maupun kelompok membentuk kepribadian dan karakter yang dijadikan pembeda
dengan individu yang lain.

(3) membiasakan tindakan dan
perilaku sesuai dengan nilai dan norma yang telah menjadi miliknya. Dari
pembentukan kepribadian dan karakter diharapkan dapat dijadikan kebiasaan dan
rutinitas dalam kehidupan sehari-hari.

Demikian pembahasan tentang Penggunaan Media Gambar Ilustrasi untuk Melatih Sosialisasi  Siswa  pada Pembelajaran IPS Kelas  1  Sekolah Dasar (SD), semoga bermanfaat.

Silakan menyimak pembahasan menarik yang lainnya……

Juga pembahasan penting lainnya pada blog ini. Terimakasih atas kunjungan Anda.

Pos terkait