JAKARTA – Di balik hiruk-pikuk tawa riang keluarga yang memadati Taman Margasatwa Ragunan (TMR) saat libur Lebaran, tersembunyi sebuah kisah kontras tentang perjuangan ekonomi yang menguak realitas daya beli masyarakat. Nenek Ameh, seorang penjual tikar berusia 60 tahun yang saban hari setia menjajakan dagangannya di gerbang utama Ragunan, merasakan denyut nadi ekonomi yang berbeda: sepi pembeli, jauh dari gemuruh Lebaran di tahun-tahun sebelumnya.
Kisah Nenek Ameh, bukan sekadar cerita seorang pedagang kaki lima, melainkan sebuah anomali yang patut diinvestigasi. Mengapa di tengah keramaian pengunjung yang memecah rekor, omzet penjual tikar justru menurun drastis? Penelusuran tim kami mengindikasikan bahwa fenomena ini tak bisa dilepaskan dari pergeseran pola konsumsi masyarakat pasca-pandemi dan dinamika ekonomi yang lebih luas, sebuah narasi yang kerap luput dari sorotan utama.
Ameh: Sosok di Balik Setiap Helai Tikar yang Bertahan
Nenek Ameh bukanlah penjual musiman yang hanya muncul saat liburan tiba. Sejak tahun 2020, wanita tangguh ini telah menjadikan lapak tikar sederhananya sebagai sumber penghidupan utama keluarga. Sebuah keputusan yang tak mudah, diambil setelah sang suami memasuki masa pensiun dari pekerjaannya sebagai Penyedia Jasa Lainnya Perorangan (PJLP) pada usia 60 tahun. “Kan dia di PJLP, sudah enggak bisa, umurnya sudah 60, sudah enggak boleh kerja lagi. Sudah, menganggur bapaknya di rumah,” tuturnya dengan nada pasrah namun penuh ketabahan.
Setiap lembar tikar seharga Rp 10 ribu yang ia tawarkan, bukan sekadar alas duduk, melainkan representasi dari harapan dan kebutuhan sehari-hari yang harus dipenuhi. Bagi Nenek Ameh, berjualan adalah sebuah ikhtiar, sebuah upaya untuk memastikan dapur tetap mengepul. “Pencaharianlah. Lah iya, bapaknya enggak kerja, gimana? Kita ikhlas jalaninnya,” imbuhnya, menggambarkan filosofi hidup yang terukir dalam setiap lipatan tikarnya.
Namun, di Lebaran tahun ini, ikhtiar Nenek Ameh terasa lebih berat. Jika pada awal ia berjualan di tahun 2020, ia bisa mengantongi Rp 1,2 juta hanya dalam empat hari, kini pendapatan hariannya terjun bebas, hanya berkisar Rp 150 ribu hingga Rp 200 ribu. Angka ini jelas menunjukkan penurunan signifikan, nyaris 50% dari capaian sebelumnya jika dihitung per hari.
Ketika Ramai Tak Berarti Transaksi: Anomali Ekonomi Lebaran di Ragunan
Data yang kami himpun dari lapangan menunjukkan bahwa kepadatan pengunjung di Ragunan saat libur Lebaran kerap memecah rekor. Jalanan menuju pintu masuk macet, area parkir penuh sesak, dan setiap sudut taman dipenuhi tawa ceria. Namun, di tengah euforia itu, Nenek Ameh menyaksikan realitas yang berbeda. “Lebaran ini agak sepi. Agak sepi, biasanya tuh satu ikat 50 lembar habis. Sekarang cuma 20-15, sepi. Enggak kayak tahun dulu tuh, ramai,” keluhnya. Sebanyak 50 lembar tikar yang dulu bisa ludes, kini hanya 15-20 lembar saja.
Fenomena ini memunculkan pertanyaan krusial: mengapa keramaian pengunjung TMR tidak serta merta berbanding lurus dengan peningkatan omzet pedagang informal seperti Nenek Ameh? Analisis kami mengindikasikan beberapa faktor. Pertama, perubahan pola pengeluaran masyarakat. Pasca-pandemi dan di tengah tekanan inflasi, prioritas belanja masyarakat mungkin bergeser. Biaya transportasi, tiket masuk, dan konsumsi makanan-minuman dasar mungkin sudah menguras sebagian besar anggaran liburan keluarga, menyisakan sedikit untuk pengeluaran “sekunder” seperti tikar sewaan atau barang dagangan kaki lima.
Kedua, asumsi Nenek Ameh mengenai banyaknya warga yang mudik patut diperhitungkan. “Pada pulang kampung semua (pengunjung). Kalau tahun kemarin kan banyak yang jalan-jalan, di sini enggak banyak,” ujarnya. Jika lebih banyak masyarakat yang memilih pulang ke kampung halaman dibanding berlibur di sekitar Jakarta, tentu saja ini mengurangi potensi pembeli lokal yang biasanya menggunakan tikar untuk bersantai di area publik.
Ketiga, kami juga melihat pola menarik di mana modernisasi dan digitalisasi turut memengaruhi. Banyak keluarga kini membawa alas duduk sendiri atau memilih area berbayar yang sudah dilengkapi fasilitas. Pertarungan pedagang informal seperti Nenek Ameh kini tak hanya melawan kompetitor sejenis, melainkan juga berhadapan dengan perubahan gaya hidup dan fasilitas yang ditawarkan tempat wisata.
Jejak Retaknya Jaring Pengaman Sosial Informal
Kisah Nenek Ameh bukan sekadar potret seorang individu, melainkan cerminan dari rapuhnya jaring pengaman sosial bagi pekerja sektor informal, terutama lansia. Ketiadaan pekerjaan tetap bagi sang suami pasca-pensiun dari PJLP, yang notabene adalah pekerjaan kontrak di lingkup pemerintah daerah, menyoroti celah dalam sistem kesejahteraan sosial kita. Tanpa pensiun atau jaminan hari tua yang memadai dari pekerjaan sebelumnya, keluarga ini sepenuhnya bergantung pada pendapatan harian yang tidak menentu.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memang memiliki program-program perlindungan sosial, namun apakah program tersebut telah menjangkau sepenuhnya lansia seperti Nenek Ameh dan keluarganya yang masih aktif mencari nafkah? Ini adalah pertanyaan mendalam yang perlu dijawab, terutama mengingat kontribusi besar sektor informal terhadap perekonomian kota. Padahal, menurut data dari Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas, sektor informal menjadi tumpuan bagi sebagian besar masyarakat miskin dan rentan, sehingga keberlangsungannya harus menjadi perhatian serius.
Mengurai Benang Merah Kesejahteraan Informal: Sebuah Analisis ke Depan
Momen Lebaran, yang seharusnya menjadi puncak rezeki bagi banyak pelaku usaha, justru menjadi cermin pahit bagi Nenek Ameh. Penurunan signifikan omzet ini menjadi indikator penting bahwa pemulihan ekonomi pasca-pandemi mungkin belum merata di semua lapisan masyarakat, khususnya bagi mereka yang bergerak di sektor informal dan sangat bergantung pada daya beli langsung konsumen.
Pertanyaan yang muncul adalah: langkah strategis apa yang bisa diambil untuk memperkuat ketahanan ekonomi para pedagang informal seperti Nenek Ameh? Edukasi digital untuk memperluas jangkauan pasar, fasilitasi akses ke modal usaha mikro, atau program jaminan sosial yang lebih inklusif bagi lansia di sektor informal adalah beberapa opsi yang patut dipertimbangkan.
Kisah Nenek Ameh di Ragunan adalah pengingat bahwa di balik angka-angka makroekonomi yang seringkali terlihat positif, ada wajah-wajah manusiawi yang masih berjuang di garis depan. Kehidupan mereka, dengan segala tantangan dan ketabahannya, adalah barometer sejati keberhasilan pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Saatnya pemerintah, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan untuk menengok lebih dekat, bukan hanya ke angka pengunjung yang ramai, tetapi juga ke kantong para penjual tikar yang kini mulai sepi.
Kesimpulan
Kisah Nenek Ameh di Ragunan mengungkap realitas daya beli masyarakat yang belum merata, terutama bagi sektor informal di tengah keramaian Lebaran. Ini menyoroti perlunya dukungan strategis seperti edukasi digital dan jaminan sosial untuk ketahanan ekonomi mereka. Saatnya menengok kesejahteraan di balik hiruk-pikuk angka pengunjung.